22 Desember 2009

Kebobolan Kartu Kredit

Privat telpon berdering. Tidak biasanya dia bunyi pada jam kerja seperti baru saja. Biasanya pada jam kerja begini yang bunyi adalah telpon untuk kerja, atau hp atau skype.

Dan, Pada akhirnya aku harus mengakui bahwa aku sedang di tuntun oleh sepasang tangan ghaib untuk mengangkatnya, karena biasanya aku akan membiarkan saja privat telpon berbunyi pada jam kerja, untuk didengar pesannya nanti setelah selesai kerja..

Seseorang di seberang sana berbicara, ada perlu dengan aku, katanya.

Kemudian si mbak bersuara merdu ini menjelaskan bahwa dia dari perusahaan kartu kredit tempat dimana aku dapat kredit... Loh! ya begitulah adanya!

Dia bertanya apakah aku melakukan transaksi dengan perusahaan Swedia hari ini lewat internet. Aku jawab, sedari pagi aku serius kerja dan tidak melakukan online shopping samasekali.

"Bagaimana dengan transaksi 89€ dengan perusahaan yang sama?"

"Hari ini tidak ada transaksi samasekali, mbak..." Kataku mulai jengkel karena dia mengulang-ulang pertanyaan terus sementara aku banyak pekerjaan.

Terus dia menjelaskan bahwa tadi pagi jam 10 aku membayar dengan kartu kredit sejumlah 89€ kepada perusahaan Swedia (Aku lupa namanya) dan barusaja aku membayar lagi sejumlah 1680€ pada perusahaan yang sama. Dia mengatakan bahwa itu over limit dan mereka harus bertanya dulu kepadaku disamping, sepengetahuan mereka, aku tidak pernah belanja sebanyak itu sebelumnya menggunakan kartu kredit.

Glek...! Aku mencari-cari kursi untuk duduk. Membayangkan penderitaanku beberapa bulan kedepan karena baru mengeluarkan uang sejumlah 1680€... Iya, seribu enam ratus delapanpuluh Euro bok, bukan Rupiah!

Aku bertanya dengan lemas, apakah dia bisa membatalkan semua transaksi kartu kreditku untuk hari ini, karena seseorang telah berhasil mencuri dataku di internet.

Dia bilang tidak masalah, dia akan membatalkan semua transaksi sekaligus memblokir kartuku, kemudian akan mengirim kartu yang baru dan akan sampai 5 hari kedepan.

Dengan tulus aku memuji dia dan mengucapkan terimakasih kerena telah menelponku sebelum aku benar-benar kerampokan.

Terus... aku barusan buka-buka file dan email. Dimana saja ya aku belanja online?
Okay, bulan kemaren bayar di JustHost.com. Bulan ini bayar exMaster.net dan netfirms.com untuk hosting beberapa websites, juga bayar ke tokoindonesia.de untuk beli beberapa bumbu dapur... Bayar tiket kereta api ke Munich untuk tahun depan.

Lha, pas mbayar apa ya, aku kebobolan data?

Tak tau lah, tapi yang jelas mulai hari ini aku akan mengisi PayPal lagi untuk transaksi online dan tidak akan menggunakan kartu kredit lagi, sementara kartu kreditnya akan aku simpan dengan rapi dan cuma aku gunakan jika pergi ke luar negara saja, atau belanja offline.

Kapok wes!


Baca Terus...

18 Desember 2009

Photo walking: Salju, brrrr....

kemarin hujan salju turun dengan lebat. Selesai menyelesaikan pekerjaan aku pergi keluar untuk menikmati pemandangan kota yang terasa sedikit magis jika sedang tertutup salju, apalagi di sekitar gereja yang banyak kuburannya dan Rathaus (Balai kota).

Jadi rute potonya (aku taruh di akhir postingan ini) adalah meja kerja, taman depan rumah, terus ke taman kota, pusat kota, sekitar gereja, dan pelabuhan.

Karena udara sangat amat dingin dan tiba-tiba salju turun dengan deras lagi, maka aku tidak bisa berlama-lama diluar dan langsung pulang lagi.

Inilah hasil dari photowalking kemarin:


Lihat... sudah banyak salju diluar....



Halaman depan rumah kami yang membeku



Taman kota Schlossgarten.





Kota kami sedang tertutup salju.
Tuh lihat, deras kan?






Pohon natal didepan Rathaus sudah menyala bok.





Hahahihi... Pertanda pemiliknya adalah pemalas pol!





Imut yah....





Itu adalah historical Packhaus di pelabuhan yang merupakan kebanggaan kami,
Menjelang hari natal gini dihias sebagai Advent kalender dimana setiap
jendelanya ada angka 1 -24 dan menyala setiap memasuki tanggal yang tertulis.
Merupakan advent calendar terbesar versi Guinness book of Record.
Kalau minggu ramai pengunjung karena ada Weihnachtmarkt (Pasar natal).






Pelabuhan yang tenang dan damai... Areal termewah, Orang2 kaya
tinggal disini.






Nanti kalau sudah benar2 beku, kita bisa plorotan
main ski es di kolam ini.


Baca Terus...

11 Desember 2009

Arti Sebuah Nama

Apalah artinya sebuah nama.... Begitulah kira-kira bunyi ungkapan lama yang maksudnya tidak terlalu mementingkan makna sebuah nama.

Benarkah? Ternyata tidak! Setidaknya saat ini aku dibikin puyeng oleh konsulat kita di Hamburg gara-gara nama.

Ceritanya pasporku sebentar lagi habis masa berlakunya. Tiga bulan lalu aku sudah nelpon dan pak konsul bilang nanti saja awal Desember nelpon lagi, karena mau ganti sistem pembuatan paspor.

Ya wes, aku nelpon lagi kemudian dikirimi formulir isian yang harus diisi dan dikembalikan lagi lewat pos.

Nah, sampai ke masalah nama, karena sejak melangsungkan partnership aku menggunakan nama keluarga partnerku sebagai nama belakang, jadi sesuai hukum Jerman aku harus mencantumkan nama keluarga baruku di semua tanda pengenal, termasuk paspor.

Aku sudah bilang masalah ini beberapa waktu lalu berbarengan dengan pemilu tapi waktu itu ditolak dengan alasan yang tidak jelas.
Akhirnya dalam daftar pemilih, pada saat semua orang berstatus "kawin" atau "tidak kawin", statusku adalah "No".

Benar, cuma tulisan "No" di daftar pemilih itu.

Nah, waktu mau ganti paspor aku tanya lagi tentang nama.

"Nggak bisa ganti nama kalau alasannya adalah partnership, karena negara kita tidak pernah mengesahkan partnership antara dua orang pria." Katanya menjelaskan.

Terus aku jelaskan, berarti selamanya aku akan dapat masalah di bandara setiap saat aku pergi ke luar negara.

Inti dari pembicaraan itu, aku tidak bisa mengganti nama dalam pasporku, masalah di bandara adalah masalahku sendiri dan selama aku tinggal di Jerman, aku dipersilahkan untuk mengikuti hukum Jerman.

Begitulah, lain ladang lain ikannya, lain negara lain hukumnya. Dan aku jadi sedikit sedih karena hak asasi masih sangat amat dibatasi di Indonesia.

Dan aku berharap semoga pak Dede Oetomo arek Suroboyo itu tidak pernah capek dan putus asa dalam usahanya untuk memperjuangkan hak hidup dan kesetaraan hukum yang lebih baik buat para gay dan lesbian di Indonesia...

Baca Terus...

06 Desember 2009

Hadiah dari Nikolaus



Tadi pagi waktu bangun tidur langsung pergi ke dapur untuk bikin kopi. Ditengah jalan terhenti sejenak karena merasa ada pemandangan aneh tapi tidak tau apakah itu, jadi celingak-celinguk sebentar dan....

Aha... Aku baru ingat bahwa hari minggu ini adalah hari Nikolaus (Nikolaus Tag) dan rupanya aku adalah anak yang baik sepanjang tahun ini karena tadi malam secara diam-diam Nikolaus masuk rumah melalui chimney (cerobong asap perapian di atap rumah) secara diam-diam dan menaruh hadiah coklat di salah satu sepatu boot-ku! Coklatnya penuh bok, sampai terjatuh-jatuh ke lantai segala!

Terus sampai dapur aku ketemu hubby yang sudah bangun duluan dan sedang minum kopi sambil baca koran minggu.

"Schatz... Kalo Nikolaus lewat lagi tolong bilang ya, makasih untuk hadiahnya, gitu" Kataku sambil cengar-cengir ngupas coklat.

"Okay, dia juga bilang semoga kamu cepat sembuh" Katanya sambil meraba keningku.

Iya, sudah 2 hari aku demam kena infeksi flu babi. Rasanya? Puih.... Lebih enak kena flu biasa! Ini flu benar-benar babi. Demam tinggi, nyeri kepala yang amat sangat dan nyeri di seluruh otot tubuh. Itulah flu babi. Aku jadi kasian sama para babi yang kena flu. Obatnya mudah, Cuma dengan obat tetes homeopathie Ortitruw 2 jam sekali sebanyak 20 tetes bisa sembuh setelah 15 jam terinfeksi.

Bagaimana aku sampai terinfeksi? Apakah aku bergaul dengan babi?
Tentu saja tidak. Cuma waktu itu aku pergi ke klinik hubby untuk pasang hiasan advent di ruang tunggu. Nah, rupanya disitu lagi ada tante yang sedang antri dan belakangan aku tau bahwa dia kena flu babi, akibatnya aku langsung terinfeksi juga.

Ngomong-ngomong tentang flu babi, sebenarnya ini adalah endemi yang sangat amat lembut dan tidak perlu di kuatirkan samasekali. Hanya perusahaan farmasi-lah yang pandai cari koneksi agar obat imunisasi produksinya laku keras.

Dan setelah hadiah dari Nikolaus, aku sekarang sedang penasaran, hadiah apa nanti yang akan ditaruh Santa Klaus pada malam hari tanggal 24 Desember di bawah pohon natal yang akan aku hias nanti.

Tunggu saja, Ho ho ho...

Baca Terus...

30 November 2009

Telpon di Hari Raya

Secara berkala namun tidak teratur aku nelpon keluargaku yang tersebar di Indonesia dari ujung ke ujung. Tentu saja nelponnya pake skype, biar ngobrolnya lebih leluasa.

Pun tadi pagi, aku nelpon Emak untuk mengucapkan selamat hari raya kurban. Sebenarnya sih telat, tapi daripada tidak kan lebih baik terlambat, bukan?

Tapi jaringan telponnya ngga nyambung. Ya wes, ganti nelpon Mbakyu yang nomer 3 yang merupakan sahabatku dalam keluarga karena kami ngga beda jauh dalam umur, jadi obrolan selalu nyambung.

Kalo nelpon Emak, rasanya dinasehati terus. Nelpon kakak pertama dan kedua, mereka terlalu sederhana jalan pikirannya, menurutku. Sementara kalo nelpon adikku yang masih belajar di Surabaya, kadang-kadang aku tulalit kalo dia pakai bahasa anak muda yang ngga begitu jelas maksudnya.

Jadi, aku lebih suka nelpon Mbakyuku yang nomer tiga. Dia menikah, punya seorang anak adopsi tapi belum mau punya anak sendiri dan mereka bertiga hidup dari hasil berjualan di warung bakso milik mereka sendiri.

Baru saja mengucapkan salam sudah ditegur... "Eh, kamu itu, kalo nelpon tuh mbok ya yang lebih sering, gitu.... Kasian Emak tanya terus kabar kamu..."

Aku hanya tertawa dan mengucapkan selamat hari raya, menjelaskan bahwa aku barusan nelpon Emak tapi nggak nyambung. Dia bilang HPnya Emak hilang dicuri orang dan berjanji akan membelikannya lagi. Aku sarankan beli HP yang besar, murah dan jelek saja biar kalo dicuri atau ketinggalan ngga terlalu nyesal jadinya. Dan dia setuju.

Memang kalo orang lama ngga ketemu jadi kangen. Jadi kami ngobrol yang temanya ngga jelas banget. Dia cerita bahwa mereka baru saja pulang dari rumah Emak sejak dua hari yang lalu untuk ber-hari-raya. Rupanya Emak sedang banyak rejeki dan berbaik hati untuk berkorban seekor kambing jantan "...dan gemuk," Katanya.

Semua anaknya diikuti oleh menantu dan anak-anaknya pada ngumpul, termasuk adikku yang di Surabaya. Dan seperti halnya semua anak terakhir dalam sebuah keluarga di dunia ini, maka dia adalah anak yang paling dimanja sekaligus paling nakal. Bukan anak terakhir namanya, kalau ngga begitu. Anak terakhir adalah bintang yang selalu mendapat limpahan kasih sayang. Itulah hukum alam.

Rupanya si anak terakhir ini sudah beranjak dewasa. Setelah tahun lalu bikin heboh kami dengan rencananya untuk mengawini pacarnya padahal kuliahnya belum selesai (Untung dia buru-buru diputus pacarnya), kali ini dia ingin buka usaha percetakan.

Semua ngga setuju kecuali aku. Tapi aku bilang, aku mau kasih modal kalo dia kerja dulu di perusahaan percetakan selama dua tahun mengingat kuliahnya samasekali ngga ada hubungannya dengan cetak mencetak! Kerja di percetakanpun harus nunggu sampai kuliahnya selesai karena sekarang ini-pun dia juga kerja untuk Esia, atau easy atau asia... Itu lho, perusahaan provider hp dari Surabaya.

Padahal beberapa waktu lalu si anak terakhir ini bilang bahwa dia ingin belajar animasi di Jepang. Aku sudah girang mendengar adikku punya kemauan kuat untuk belajar, ngga seperti mas-nya ini yang SMA saja ngga lulus dan sekarang cuma bisa menyesali nasib dan ngga mau adiknya juga mengalami nasib yang sama.

Mbakyu-ku juga tanya tentang rencana liburanku tahun depan dan aku mendesaknya untuk kasih tanggal keberangkatan Emak secara pasti karena Emak ingin ketemu aku di Mekah. Tapi mereka belum dapat tanggal dari Departemen Agama, padahal sebentar lagi aku harus rundingan dengan bos tentang giliran cuti tahun depan.

"Ya sekalian kamu pergi haji sana," katanya.

Aku cuma bisa cengengesan, "Ndak ngerti doa-nya..."

Dia juga tanya apakah aku tetap bahagia dengan tidak menikah (Well, mbakyu-ku ini tau bahwa aku gay tapi kami ngga pernah berbicara masalah ini secara khusus). Dan aku menjawabnya bahwa aku sudah cukup berbahagia dengan kehidupanku sekarang ini.

"Jalan hidup orang memang lain-lain. Aku cukup senang kalo kamu tetap bahagia dengan pak Herbert. Carilah kebahagiaanmu, jangan dengar orang lain. Setelah kamu pergi, orang-orang di desa sekarang pada iri sama kamu, ngga lagi ngejek Emak bahwa kamu ngga laku. Yang punya anak cewek sekarang pada baik semua ngga ketahuan maksudnya setelah kamu pulang tahun lalu." Katanya ringan.

Tapi ungkapan ringan yang tulus dari seorang kakak yang hidup dalam kesederhanaan ini bisa menghangatkan hatiku. Dengan caranya sendiri, dia menerimaku apa adanya dengan lapang dada, tanpa menuntutku untuk menjalani hidup standar seperti "Orang-orang di desa" itu.

Mbakyu-ku yang satu ini memang sahabat sejatiku yang selalu menyayangi dan membelaku bahkan sejak aku masih bocah dan nggak akan berubah sampai kapanpun juga, bahkan setelah tau bahwa aku adalah gay.

Baca Terus...