Jam 11 malam aku sampai didepan rumah, hari belumlah gelap meskipun matahari sudah terlalu condong ke barat agak mencong ke selatan. Ini adalah musim panas yang sempurna. Kami hampir tidak mendapat gelap selama 20 jam. Mungkin cuma 2 jam saja malam benar-benar gelap. Atau sama sekali tidak pernah gelap karena selalu saja ada sinar lembayung di cakrawala sebelah barat, kemudian sebentar lagi ganti pindah ke timur.
Aku membuka kunci pintu rumah dengan hati-hati berusaha agar tidak mengganggu Herbert. Mungkin saja dia sudah tidur pada jam seperti ini, meskipun biasanya dia pergi ke kamar tidurnya selalu setelah tengah malam.
Sampai di Flur rumah (ruangan panjang didepan pintu keluar dimana ada 4 pintu pintu ke ruangan-ruangan lain) aku menggantungkan untaian kunci di gantungannya disebelah pintu, meletakkan tas punggung hati-hati disebelah laci sepatu, kemudian mencopot dan memasukkan sepatuku kedalamnya dan ganti mengenakan sepatu rumah. Semua aku lakukan dengan tanpa suara.
Tapi baru saja aku selesai dengan semua itu, pintu salah satu ruangan terbukan dan Herbert nongol dengan secangkir kopi ditangannya.
"Na, larut sekali hari ini pulang. Siapakah namanya?" Aku melihatnya sekilas. Dia tersenyum lucu menggodaku.
"Namanya siapa?" Aku balik bertanya, pura-pura bego.
"Oh, c'mon… kamu tidak perlu terlalu malu seperti itu. Baru kali ini kamu pulang hampir tengah malam. Pasti ada sesuatu yang sangat menarik diluar sana."
"Not really, i just hanged out with friend" Aku tetap mengelak…
"Bagaimana kalau kita minum barang segelas red wine sebelum kamu menghilang ke kamarmu?"
Aku menyetujuinya dan kami duduk di sofa. Herbert mematikan TV dan menuangkan red wine ke gelas kami masing-masing. Aku berterimakasih, kami bersulang dan minum bersama.
"So, who is he then?" Dia mengulangi pertanyaan.
"Ne, aku tidak akan bercerita apapun" Kataku mantap.
"Why?"
"Karena kamu akan cemburu, seperti yang pernah kamu bilang".
"Sekarang tidak lagi, aku yakin itu."
"Okay… if you're sure about it, then i will tell you…" Aku mengambil gelas red wine dan meneguknya beberapa. Menyalakan rokok…
"Namanya Thomas. Ini pertemuan kami yang kedua… Dia tinggal di Bredstedt, sendiri. Umur 44 tahun… Ja, that's all… and if you want to see, i have a pic of him on my laptop."
"Bagaiman kalian tadi bertemu?"
"Dia jemput aku, pergi ke resto 'Tante Tina', kemudian kami ke rumahnya."
"Lalu, dia antar kamu balik?"
Aku mengangguk. Herbert membesarkan bola matanya memandang gelas red wine ditangannya, menekuk sudut mulutnya kebawah dan menggelengkan kepalanya seperti pertanda tidak setuju… "Lain kali bersopan-santunlah sedikit saja kepada teman-teman kamu…" Katanya selanjutnya.
"Ya tentu saja aku selalu sopan terhadap siapapun…" Aku ngeyel, seperti biasa.
"Hey look..! dia telah bermobil lebih dari 300km dan kamu tidak mengajaknya mampir untuk segelas kopi atau teh…"
"Tidak dong, ini cuma 150km. Lagipula aku tidak akan membawa teman kencanku masuk rumah karena aku menghargai kamu."
"Iya buat kamu cuma 150km tapi dia harus dua kali menjemput dan antar balik kamu. Dan juga sebenarnya tidak masalah samasekali bagiku jika kamu ingin membawa teman kamu kerumah."
Benar juga, aku baru sadar kalau Thomas harus menempuh jarak sekitar 300km untuk semua tadi.
Aku merasa ada sesuatu yang berubah terhadap Herbert. Sebelumnya dia selalu diam-diam ingin tahu apapun yang aku lakukan, cemburu terhadap semua orang yang mengadakan kontak dengan aku. Sekarang dia malah memintaku untuk menceritakan kencan yang baru saja aku lakukan. Ada apa dengan Herbert?
"I don't know if you are looking for a man at the moment. But it's good for you to have a friend" Katanya lagi, tersenyum, sabar, seperti biasanya.
"If you think i am looking for a lover, i am not. I only make a sex date with him, nothing more." Aku menjelaskan hubunganku dengan Thomas.
"Oh, c'mon… now you can say that, but after 10 times meet him, you will change your mind" Herbert Tertawa...
Tapi aku serius, "Tidak, aku tidak akan. Diam-diam aku telah belajar dari hubungan kita. Dan yang aku inginkan saat ini bukanlah partner melainkan teman-teman. Aku samasekali tidak memerlukan pasangan. Aku akan hidup sendiri sampai waktu yang tidak aku tentukan."
Herbert memandangku dengan bingung. Aku meneruskan, "Aku tidak pernah berpikir bahwa hubungan kita adalah sia-sia. Aku bahagia dengan kamu selama 5 tahun. Tapi sekarang aku tidak mau punya pasangan."
"Dan… Jika pada akhirnya kamu jatuh cinta pada Thomas?"
"Aku berharap bisa menghindarinya"
"Bagaimana caranya?"
"Dengan bikin sex date dengan yang lain!"
"Mmmm… not good… can you…? But… you don't want to have a lover. That is the problem"
"Ne, ini bukan masalah, bahkan sebaliknya. Dan aku akan menghindari jatuh cinta."
"Tapi kenapa? Bukankah sebaiknya kamu memulai hubungan dengan seseorang?"
"Aku cuma tidak ingin seseorang itu. Aku tidak punya alasan pasti, tapi aku tidak mau tertuju kepada seseorang karena aku jatuh cinta padanya."
"Apakah kamu bisa bahagia untuk hidup tanpa cinta?"
"Aku tidak tahu, tapi aku harap begitu. Aku cuma tidak ingin seorangpun sekarang ini. Atau mungkin seseorang itu tidak akan menginginkanku setelah tahu bahwa aku tidak punya banyak waktu untuk mengadakan hubungan."
"Aku tahu kamu. Bahkan kamu cuma tidur 6 jam dan tetap kerja pada hari minggu."
"That is. Mungkin aku terlalu takut terhadap masa depan. Atau bisa jadi karena setelah lima tahun aku akan memutuskan hubungan dengan seseorang itu nantinya, seperti hubunganku dengan kamu dan orang sebelum kamu. Semua selalu terulang setelah lima tahun..."
Kami terdiam, aku cuma memandang gelas red wine. Tangan kiriku memegang gagang gelasnya sementara telunjuk jari tangan yang lain aku mainkan berputar-putar di bibir gelas.
Aku merasa tidak berdaya, patah semangat.
Herbert menyadari itu dan mendatangiku. Berusaha menumbuhkan semangatku dengan memelukku sebelum akhirnya menyuruhku pergi tidur.
Dalam tidurpun, aku masih takut terhadap masa depanku sendiri.
Dan aku tidak akan membiarkan Thomas atau bahkan aku sendiri jatuh cinta kepada yang lain, karena aku tahu bahwa aku terpesona padanya.
21 Juli 2010
Langgan:
Poskan Komentar (Atom)




0 comments:
Poskan Komentar