Dulu sekali, pada pagi hari tanggal 28 Juni 1969 (Yes, i luv '69...!!), di Amerika sono noh... tepatnya di bar Stonewall Inn, Christopher Street, distrik Greenwich Village - New York, terjadi baku hantam antara kelompok gay dan polisi, dan ini merupakan puncak 'pertempuran' setelah beberapa hari sebelumnya terjadi sengketa diantara mereka.
Berawal dari penggerebekan dan perlawanan inilah kemudian didirikan Christopher Street Liberation Day Committee pada tahun pertama setelahnya sebagai peringatan atas hari kejadian itu.
Sejak itu di New York selalu diadakan parade jalan dengan nama Christopher Street Liberation Day pada hari sabtu terakhir di bulan Juni untuk demonstrasi menuntut kebebasan dan persamaan hak gay, lesbian, biseksual dan transgender yang disingkat dengan GLBT.
Dan saat ini parade itu sudah menjadi tradisi internasional yang dikenal dengan nama Gay Pride atau Pride Parades di Amerika, di Australia disebut dengan Mardi Gras, Austria menamakannya dengan Regenbogenparade dan di Jerman dan Swiss dikenal dengan perayaan Christopher Street Day (CSD).
Saat ini di semua kota besa di Jerman ada komisi CSD, yang terbesar ada di Koln (Cologne).
Catat bok... Koln adalah Gay-City-nya Jerman, dimana-mana bertaburan gay scene dan aku juga tidak tahu dengan pasti kenapa para gay ini suka hidup di Koln.
Padahal aku juga gay, tapi kalau disuruh memilih aku akan tinggal di Hamburg atau Berlin, dua kota favoritku disamping Paris.
Nah, di Jerman CSD ini tidak diperingati pada tanggal tersebut diatas tetapi pada akhir pekan bulan Juli sampai Agustus. Dirayakan untuk secara demonstratif menunjukkan keberadaan mereka dan juga mengekspesikan identitas seksual GLBT dengan bangga.
Banyak acara diadakan dalam festival itu seperti diskusi, Culture Week, karnaval di jalan dan party.
Terus, di Hamburg dirayakan pada tanggal 31 Juli - 8 Agustus untuk tahun ini.
Dan inilah Song Theme untuk CSD Hamburg 2010. keren lho, techno...
Lalu, bagaimana dengan pergerakan gay Indonesia?
Ah, sebenarnya tidak perlu ya, kan sebenarnya kultur kita sudah sangat amat ramah dengan gaya hidup gay, bahkan beberapa kultur juga melibatkan gay dalam kehidupan sehari-hari.
Masih ingat kan, dulu di Ponorogo, Jawa Timur ada Warok dan Gemblak yang merupakan perkawinan gay model Indonesia dan itu adalah bagian dari kultur kita - berjalan menjadi kebudayaan bangsa.
Ada juga drama panggung ludruk yang semua artisnya adalah cowok, bahkan yang berperan sebagai cewek sekalipun. Di Bali juga ada drama panggung seperti ini tapi aku sudah lupa namanya. Kalau ada yang tahu, kasih komen ya please...
Tapi....
Sayang seribu sayang....
Kultur kita telah diporak-porandakan oleh dua agama besar itu sampai hampir tak tersisa, dan masyarakat juga dengan membabi buta mengambil apa saja, apapun itu, asal berbau dua agama besar didunia itu.
Bahkan yang lucu namun mengerikan, orang-orangpun mulai berpakaian seperti layaknya orang darimana dua agama besar itu dilahirkan. Mereka tidak sadar bahwa kondisi alam menjadikan penghuninya cerdas dan mempunyai kultur yang berjalan seiring dengan alam, termasuk cara berpakaian.
Aku cuma bersyukur bahwa dua agama besar itu tidak berasal dari Eskimo.
Melantur, It must be stopped. I don't talk about religy in public place like this. I prefer to talk about sex.
Make Love, not war, yeah...
Begitu saja tentang posting sejarah kali ini, semoga para gay yang baru mlethek dan dengan sembarangan berani membaca Blog Tjap Bagong bisa lebih bisa menerima keadaannya, semakin tahu bahwa kita tidak sendiri.
Ini ada link bagus dari CSD Hamburg, kalau tidak ngerti bahasa Jerman ya minimal bisa lihat galeri fotonya: http://www.csd-hamburg.com/de/startseite.html




0 comments:
Poskan Komentar